“Akhirnyaaa… Selesai juga baca novel ni…”

Begitulah kira-kira perasaan gw setelah membuka halaman yang ke 611 (enam ratus sebelas). FFiuhhhh… what a long journey! and I kind ofย  proud of my self because I didn’t quit halfway (I did it while I’m reading Two Tower, cuma bisa bertahan di halaman 20-an). Benar-benar cerita yang “padat” dengan tokoh-tokoh yang saling terkait serta latar belakang yang merepresentasikan perkembangan zaman, mulai dari monarki, imperialis, Perang Dunia II (invasi Jepang) sampai perjuangan demokrasi-nya Aung San Suu Kyi.

Pada awalnya gw tertarik dengan resensi yang ada dibelakang buku terbitan Mizan ini.

Glass of Palace karangan Amitav Ghosh ini menceritakan kisah tentang Rajkumar, bocah yatim piatu yang baru berumur 11 tahun, tetapi harus bertahan hidup dengan bekerja di kapal. Suatu hari kapal yang dia naiki mendarat di Mandalay, Burma, menetap beberapa hari disana dan terjebak dalam situasi perang: saat invasi Inggris ke Burma. Ditengah-tengah kekacauan itu, Rajkumar bertemu padang dengan Dolly, pelayan Ratu Supayalat yang ikut diasingkan ke Ratnagiri mendampingi keluarga kerajaan. Bertahun-tahun kemudian Rajkumar bertekad untuk menemukan Dolly, sang pujaan hati. Seiring perjalanannya, banyak hal yang dialami oleh Rajkumar (dan Dolly pada masa pengasingannya), dan setelah duapuluh tahun masa pencarian, akankah Rajkumar bertemu dengan pujaan hatinya?

Nah, pas dilihat dari ketebalan bukunya, gw pikir masuk akal juga kalo cerita ini memakan waktu sampai 20 (dua puluh tahun) masa pencarian, walopun sempet mikir: “2o taon??? lama benerrrrrrr???” ^^’ Well, biarpun tebelnya 600-an halaman gitu, dijabanin juga sampe selese meski ada scene yang bikin gw kecewa dan tergoda buat tutup buku.

Jujur, awalnya agak susah untuk memahami jalan cerita novel ini. Meski situasi -secara geografis- mirip dengan Indonesia, tapi ada beberapa (banyak malah!) istilah asing yang tidak gw pahami artinya plus tidak ada terjemaahannya seperti: baya-gyaw, sayagyi, taida mingyi, mebya, hletin atwinwun, sepahi, wungyi, wundauk, myowun dll. Istilah-istilah asing tersebut cuma dikasih huruf italic untuk sekedar membedakan dengan kata-kata lainnya. Atau mungkin bisa jadi tidak ada padanan katanya dalam bahasa Indonesia? Tambahan, literatur gw tentang kebudayaan Burma sangat-sangat-sangat terbatas, berbeda dengan informasi tentang kebudayaan Jepang dan Korea yang cukup populer disini.

Ternyata, perjalanan Rajkumar mencari Dolly berakhir pada halaman 191 (seratus sembilan puluh satu), saat Dolly akhirnya mengejar Rajkumar ke dermaga, mencegahnya pergi. Lho? Lho? Lho? Jadi sisa 420 (empat ratus dua puluh) halaman berikutnya cerita tentang apa dong? ^^’ Yaaahhh… begitulah, saudara-saudaraaaaa…ย  ceritanya berlanjut sampai anak-anak mereka tumbuh besar, menikah dan punya anak (diceritakan juga bahwa Rajkumar-pun memiliki anak di luar nikah). Tiap tokoh saling terkait, dan kadang gw berpikir, memang yang namanya jodoh tu gak kemana ya… ๐Ÿ™‚ย  ๐Ÿ™‚ย  ๐Ÿ™‚

Perubahan latar belakang dan perkembangan zaman benar-benar mempunyai peranan penting disini. Pada masa kecilnya Rajkumar, tergambar situasi monarki dan imperalisme. Kemudian berlanjut dengan mulai dikenalnya bisnis gelondongan kayu jati (penyebab utama invasi Inggris), merambah hutan dengan bantuan gajah dan pawangnya. Masa berlanjut dengan mulai dikenalnya industri karet seiring munculnya kendaraan roda empat. Kemudian meletusnya Perang Dunia II yang menyebabkan Rajkumar kehilangan segalanya: bisnisnya, kematian anaknya, dan keluarga yang tercerai-berai. Di usia yang tidak muda lagi, memaksakan diri menempuh perjalanan darat dari Burma ke India untuk menghindari serangan Jepang. Tough moment.

Ceritapun masih berlanjut dengan perpisahan Rajkumar dan Dolly. Rajkumar memutuskan untuk tetap tinggal di India untuk mengasuh cucu semata wayangnya, dan Dolly kembali ke Burma untuk mencari putra keduanya yang hilang semasa perang (ujung-ujungnya Dolly menjadi biksuni) dan sang cucu-pun tumbuh dewasa. Jaya, sang cucu,ย  memulai perjalanan ke Burma untuk napak tilas sejarah perjalanan keluarganya dan mencari pamannya yang hilang ๐Ÿ™‚ย  ๐Ÿ™‚ย  ๐Ÿ™‚

See? panjang kan ceritanya? And it’s all in one book! ^^’

The next book, sama-sama ber”aroma” India, tapi Life of Pi karangan Yann Martel bener-bener beda rasa! This book is amazing, dan pada saat gw browsing, ternyata buku ini akan dibuat film, disutradai oleh Ang Lee dan dibintangi oleh Tobey Maguire! Crazyyyyyyy…. \m/ meski sama-sama memiliki kemiripan tema (sama-sama terdampar) dengan Cast Away-nya Tom Hanks (CA) atau Robinson Crusoe-nya Pierce Brosnan (RC), tapi menurut gw Life of Pi lebih punya greget. Why? Karena dibandingkan dengan CA & RC yang terdampar di pulau, Pi terombang-ambing di atas sekoci di tengah-tengah lautan Pasifik selama 227 (dua ratus dua puluh tujuh) hari. Jika Chuck Noland ditemani oleh Wilson The Volleyball, atau RC yang akhirnya ditemani oleh Friday, maka Piscine Molitor Patel -pernah trauma dipanggil pissing oleh teman-temannya- ditemani oleh Richard Parker, seekor harimau bengal berusia 3 tahun seberat 225 kg. How’s that? ๐Ÿ˜‰

Tanpa bermaksud membanding-bandingkan diantara keduanya, I think The Glass Palace cenderung flat, penceritaannya datar, runut dan bahkan gak ada unsur komedi-nya sama sekali. Really, gw gak inget ada adegan dalam novel itu yang bikin ketawa terpingkal-pingkal. Justru gw dibikin terkagum-kagum dengan sikap Ratu Supayalat dimasa kejatuhan monarki dan saat dia diasingkan ke Ratnagiri, bukan kisah Rajkumar -sang tokoh utama- yang bikin gw terkesan ^^’

Perasaan gw campur aduk pas baca Life of Pi. Tertawa, terharu, a bit scared (siapa yang gak stress coba, ngeliat secara langsung bagaimana rantai makanan bekerja: hyena memangsa zebra -si zebra mati perlahan-lahan karena si hyena eat ’em piece by piece -, lalu hyena menghabisi si orang-utan, dan akhirnya hyena-pun dimangsa Richard Parker), trus sedih ada juga, dan akhirnya lega karena ceritanya happy-ending ^^’

Salah satu bagian favorit gw adalah dalam novel ni juga digambarkan suasana kebun binatang dan bagaimana para binatang menyesuaikan diri dengan lingkungan yang terbatas (zoo is my favorite place either ^^). Diceritakan bagaimana Pi mengungkapkan keheranannya atas keputusan sang Ayah yang banting stir mengelola hotel beralih menjadi mengelola kebun binatang. Berikut kutipannya:

Mungkin kau pikir wajar saja beralih dari mengelola hotel ke mengelola kebun binatang. Nanti dulu. Ditinjau dari berbagai sudut, mengelola kebun binatang bisa dikatakan mimpi buruk paling parah bagi pengelola hotel. Bayangkan: tamu-tamunya tidak pernah keluar kamar; mereka bukan hanya minta disediakan tempat tinggal, tapi juga pelayanan lengkap; tidak habis-habisnya mendapatkan pengunjung; beberapa ada yang berisik dan tidak tahu aturan. Supaya kamar mereka bisa dibersihkan, mesti ditunggu supaya mereka keluar dulu ke balkon -bisa dikatakan begitu. Lalu supaya balkon bisa dibersihkan, lagi-lagi mesti menunggu mereka bosan dengan pemandangan di luar dan kembali ke kamar; dan urusan bersih-bersih ini sangat merepotkan karena tamu-tamu ini jorok seperti pemabuk. Masing-masing dari mereka sangat rewel soal makanan dan tidak pernah sekalipun memberi tip. ๐Ÿ™‚ย  ๐Ÿ™‚

Bagian favorit lainnya adalah adegan Pi untuk pertamakalinya menghadapi situasi yang disebut “dialog antar agama” dan diakhiri dengan makan es krim bersama Ayah dan Ibunya ๐Ÿ™‚ย  ๐Ÿ™‚ย  ๐Ÿ™‚

Begitulah kira-kira sekilas info mengenai The Glass Palace dan Life of Pi. Kalau tertarik, silahkan cari bukunya di toko buku terdekat hehehe…

Sampai bertemu lagi di postingan berikutnya ๐Ÿ™‚

Advertisements