Nope, this post is not about enemy or dedicates to them. Not at all.

“Dear Enemy” is a novel, written by Jean Webster. Know her? Yep, she’s the author ofย  Daddy Long Legs, tells about an orphan girl, Judy Abbot and her letters to her secret guardian. This classical novel is classified as young adult literature or even children literature, but definitely not a fairy tale like Snow White, Cinderella etc yang segalanya bergantung pada magic. Sama halnya dengan Anne of Green Gables karangan Lucy Maud Montgomery atau Little Women karangan Louisa May Alcott, novel-novel ini bercerita tentang para wanita dengan latar belakang dimulainya era emansipasi wanita, masa-masa para wanita mulai diberikan kesempatan untuk menikmati pendidikan dan memiliki status sosial seperti halnya laki-laki. A time when women start to expressed their thoughts and their independence tanpa melupakan sisi feminitas mereka.

Novel ini gw baca sebelum “menyentuh” Palace of Illusions, jadi harusnya sih gw bikin review novel ni dulu baru Palace, ya gak?^_^ dan malah sebelumnya gw dah kelar baca Life of Pi. Jadi terbalik nih urutannya hehehe… Tapi ya sutralah, review (sekilas info) tentang buku-buku yang sudah gw baca akan dipaparkan pada posting selanjutnya, dah masuk waiting list kok ๐Ÿ™‚

Dear enemy merupakan sequel dari Daddy Long Legs. Meskipun dibilang sequel, ceritanya sama sekali bukan tentang kelanjutan hubungan Judy Abbot dan Jarvis Pendleton setelah menikah seperti kisah Anne of Green Gables, tapi menceritakan tentang sepak terjang Sallie McBride, sahabat Judy semasa kuliah sekaligus seorang sosialita kelas menengah-atas yang ditantang oleh sahabatnya (dan darah panas Irlandia-nya terpancing) untuk mengurus Panti Asuhan John Grier, tempat Judy dibesarkan. Dan petualangan Sallie di John Grier-pun dimulai…

Penceritaan dalam novel ini berbeda dengan novel lainnya yang kita kenal secara umum. Disini kita melihat serpak terjang Sallie sebagai new superintendent yang totally blind akan pengelolaan panti asuhan melalui surat-suratnya kepada Judy (dan Jarvis sebagai ketua dewan pengelola panti asuhan), Gordon Hallock (seorang politisi dan tunangan Sallie), dan Robin McRae, seorang dokter yang bertanggungjawab atas kesehatan 113 (seratus tiga belas) anak penghuni John Grier (surat kepadanya-lah Sallie selalu mengawalinya dengan “Dear Enemy…” saking seringnya mereka berbeda pendapat). Yap, kita bisa mengetahui petualangan Sallie hanya melalui surat-suratnya. Interesting way indeed, tapi sayangnya penceritaannya hanya dari satu sisi saja, yaitu dari surat-surat Sallie semata. Kita hanya bisa mengira-ngira apa isi surat balasan dari Judi (dan Jarvis), Gordon dan McRae melalui surat-surat Sallie untuk mereka selanjutnya.

Cerita yang sederhana, tapi cukup menghibur bagi yang suka bacaan genre semacam ini.

Ngomong-ngomong soal sederhana, gw kan juga pinjem novel “I don’t Care”. Daripada novel, lebih cocok sebagai kumpulan cerita pendek sih… Nah, sebelum pinjam novel ni dari perpustakaan, gw bolak-balik halaman didalamnya dulu, pengen tahu sekilas, sebenernya ini buku cerita tentang apa sih? ๐Ÿ™‚ Pas gw nemu cerita yang lumayan menarik:

MATI

“Sudah…?”

“Baru beberapa menit yang lalu… Cukup tenang…!” jawab Kasim datar.

“Innalillahi wainna ilaihi rojiun…!”

Udah. Cuman segitu aja ceritanya. Dibilang cerita sederhana juga gak pas kali yaa… ini sih bener-bener pas disebut CERITA PENDEK! ๐Ÿ˜€ย  ๐Ÿ˜€ย  ๐Ÿ˜€ Waktu baca bagian itu, asli gw (nahan) ketawa di perpustakaan (padahal kan cerita tentang ada yang meninggal, kok malah ketawa… hehehe…). Cuman sayang, pas gw baca cerpen-cerpen lainnya, gw ngerasa gak terlalu sreg dengan penceritaanya. Mungkin karena bukan genreย  bacaan gw kali yaa… ^^

Nah, cerita “I don’t Care” yang benar-benar pendek (141 halaman ) ini berbanding terbalik dengan The Glass Palace. Akan gw ceritain pada posting-an selanjutnya…

Have a nice day, everyone ๐Ÿ™‚

 

 

Advertisements