This book is Amazing! Begitulah kira-kira kesan gw setelah membaca novel karangan Divakaruni ini. Benar-benar orisinal dan sungguh gw terkaget-kaget dengan penggambaran kisah epik Mahabrata yang terkenal di dalamnya. So intimate (bukan intim dalam pengertian negatif ya). Selama ini kalo gw membaca atau menonton kisah Mahabrata (dulu pernah ditayangin di TPI, waktu itu masih SD malah^^) kita sekedar jadi penonton aja. Tapi di novel ini, penceritaan (dan alihbahasanya) bisa membuat kita merasa berada di dalamnya, meski tetap peran kita adalah sebagai penonton yang menyaksikan takdir bergulir di dalamnya, tak mampu untuk merubahnya… Tapi, sebelum membaca posting-an gw lebih lanjut, I just wanna tell you, ini bukan tentang mengkritisi isi buku/novel, tapi bagaimana kesan-kesan gw sebagai penikmat buku saat membaca Palace of Illusions ini.

Novel ini menceritakan tentang kisah Mahabrata dari sudut pandang tokoh wanita yang paling berpengaruh dalam kisah ini: Dropadi. Menurut gw justru kisah ini merupakan kisah perjalanan hidup Dropadi, mulai dari asal-mula kemunculannya dari dalam api (bersama-sama dengan kakaknya Drestadyumna), sampai menjelang kematiannya di daerah pegunungan Himalaya saat menjalani ritual mahaprasthan menuju nirwana. Kisah Mahabrata yang sudah kita kenal sebelumnya lewat tivi atau komik (termasuk para tokoh Pandawa-Kurawa) hanya menjadi pelengkap.

Pada saat awal-awal membaca novel ini, pikiran gw otomatis selalu tertuju pada  para tokoh yang pernah gw tonton di serial tv  (Inget banget dulu pas jam istirahat  dibela-belain pulang kerumah buat nonton serial ini. Untung rumahnya deket dari sekolah, jalan kaki gak sampe 5  (lima) menit hehehe…), berusaha keras mengingat wajah, karakter masing-masing beserta jalan ceritanya sambil membanding-bandingkan bagaimana penceritaan di buku ini. Pokoknya dulu kesimpulan gw tuh, Pandawa=baik, Kurawa=jahat. Tapi ternyata “kenyataan” yang diceritakan oleh Dropadi tidaklah sesimpel itu. Bahkan Duryudana-pun sebenarnya bisa menjadi tokoh yang baik. Dia bisa dikatakan sebagai produk salah asuhan, dan saat segalanya dirasa sudah terlambat, there’s no way to turn around ^^

I found it so hard to compare the both version:  from the TV series and the novel ones, the TV’s stories comes blurry and blended in my mind then I said “forget it!”. Lupakan cerita versi di TV itu, lupakan kalau sebelumnya pernah membaca komik-komik Mahabrata, lupakan siapa itu Arjuna, Yudhistira, Bima, klan Kurawa dan lain-lain. Gw memulai dari awal lagi, seakan-akan gw belum pernah mengenal kisah ini sebelumnya (Sumpe deh… waktu baca lembar-lembar awal novel ni, pikiran gw langsung otomatis ngebayangin adegan-adegan yang ada di versi tv, walau cuma sepotong-sepotong tetep aja annoying ^^’)

Kisah ini full efek domino, dari tragedi yang satu muncul tragedi lainnya. Perbuatan, sumpah dan kutukan satu orang bisa berimbas pada orang lain, bahkan sampai ke anak cucu. Dropadi (dan kakaknya)-pun terlahir melalui api persembahan Prabu Drupada sebagai bentuk permohonan kepada para dewa demi membalas dendam kepada sahabat sekaligus musuhnya: Drona. Sang kakak terlahir dengan mengemban takdir sebagai alat balas dendam sang ayah, dan sang adik yang pada awalnya dianggap sebagai “pelengkap” ternyata punya takdirnya sendiri.

Dropadi adalah putri kerajaan yang cerdas, minatnya yang tidak lazim pada pelajaran-pelajaran sang kakak (misalnya tentang kenegaraan) menimbulkan kekhawatiran sang ayah. Para guru banyak mengeluhkan sikap Dropadi yang terlalu ikut campur saat kakaiknya sedang belajar (Dropadi sering kasih “contekan” malah^^’). Pada awalnya, sebagai putri, Dropadi kurang percaya diri dikarenakan warna kulitnya yang gelap. Tapi sahabatnya Krishna -yang juga berkulit gelap- membesarkan hatinya. Krishna sering memanggil Dropadi: Krishnaa (bentuk feminim dari kata Krishna) dan berkata:

“Masalah hanya menjadi masalah kalau kau percaya itu masalah. Dan sering orang melihatmu seperti kau melihat dirimu sendiri”.

Ibarat kepompong yang berubah menjadi kupu-kupu, dari kata-kata itulah Dropadi perlahan-lahan berubah menjadi Putri Panchala yang mengagumkan 🙂 🙂 🙂

Hal yang bikin gw amazed saat baca novel ini adalah the fact that Dropadi memendam perasaan pada Karna (begitu pula sebaliknya), perasaan yang muncul sebelum Arjuna memenangkan sayembara yang diadakan oleh Raja Panchala dengan hadiah sang putri untuk dijadikan istri si pemenang. Awalnya, Karna-lah yang berhak menang, akan tetapi karena Karna (sudah diberi gelar Raja Angga oleh Duryudana) bukanlah kaum ksatriya, para pangeran, dan asal-usulnya tidak jelas, kemenangannya dianggap tidak sah. Awalnya, Karna tidak bersedia mundur, dan demi menghindarkan pertumpahan darah antara Karna dan Drestadyumna -jelas kakaknya yang akan kalah- Dropadi terpaksa mengucapkan kata-kata yang menimbulkan benih-benih dendam demi menyelamatkan nyawa kakaknya. Akhirnya, Drupadi menjadi istri dari kelima Pandawa dan menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya. Dia teringat dengan kata-kata bijak: “istri yang menyimpan dalam hatinya pikiran penuh hasrat terhadap laki-laki yang bukan suaminya, sama tidak setianya seperti perempuan yang tidur dengan laki-laki semacam itu”, but still… deep in her heart, she couldn’t forget about him.

I’ve become more exciting to read this book after I found out about their feeling for each other dan selalu penasaran dengan kelanjutan kisah mereka berdua. Ada beberapa scene mereka berdua yang bikin gw terharu sekaligus sedihhh… T__T

Hal-hal lainnya yang bikin gw amazed juga dalam novel ini:

  1. Seperti yang dah gw singgung sebelumnya, Dropadi menjadi istri dari Pandawa bersaudara, dengan pengaturan tiap tahun suaminya berganti: tahun pertama dengan Yudhistira, tahun kedua dengan Bima, dilanjutkan dengan Arjuna, Nakula dan Sadewa pada tahun-tahun berikutnya dan terus berulang menurut urutan kelahiran para suami. Dari tiap-tiap suami, Dropadi dikaruniai seorang anak.
  2. Diantara kelima saudara Pandawa, Bima-lah yang paling mencintai Dropadi setulus hati. Sayang, Dropadi tidak bisa membalas perasaannya dengan kapasitas yang sama. Dropadi menyayangi, menghormati suami-suaminya, dan menjalankan tugasnya sebagai istri dan ratu Indraprashta dengan baik, berusaha keras mengenyampingkan perasaannya terhadap Karna. Mungkin Dropadi mencari sosok Karna dalam diri Arjuna mengingat mereka berdua ada kemiripan (sama-sama jago panah), but seems it didn’t work well ^^’
  3. Ibunda para Pandawa, Kunti, well… dia memang ibu yang sangat dihormati oleh putra-putranya, akan tetapi, dari sudut pandang Dropadi, dia adalah ibu mertua yang “sulit” ^^’
  4. Yudhistira yang dikenal bijaksana dan sebagai panutan adik-adiknya, juga bisa bersikap sinis (cuma Dropadi dan kakaknya yang mengetahui hal ini) 😀 😀 😀 *I really like this one
  5. Dropadi gemar mengamuk dan melontarkan kata-kata tajam. Intensitasnya makin tinggi saat dia mengetahui para suaminya menikah lagi (tujuan sebenarnya dia mengamuk adalah supaya para Pandawa tetap menaruh hormat yang sehat & para istri muda menjadi sungkan padanya^^’) dan saat dia kehilangan Indraprashta gara-gara Yudhistira kalah bermain dadu melawan Sangkuni
  6. Karna adalah saudara tertua dari Pandawa. Karena kecerobohan Kunti, Karna terlanjur hadir di dunia dan dia dibuang ke sungai. Pada akhirnya Karna mati ditangan Arjuna tanpa mengetahui kalau Karna adalah kakaknya, sedangkan Karna yang sudah mengetahui hal tersebut dari Kunti, memilih untuk tetap setia di pihak Kurawa. Tepat sebelum anak panah Arjuna mengenai sasarannya, Karna tersenyum.

Yahhh… sekian dulu postingan gw tentang novel ini. Mudah-mudahan tidak bosan bacanya hehehe… 😉  😉  😉

Advertisements